APA SIH LANDMARK KOTA BEKASI?
Bekasi, dobeldobel.com
Prapatan Pintu Tol Bekasi Barat dari Jembatan Penyeberang Orang depan Metropolitan Mall.
Mengingat Kisah Patung Lele simbol Kota Bekasi yang dibakar, kemudian setelah berubah jadi Jam Bambu Patriot yang dihiasi iklan Extra Joss (Nggak apa maksudnya si pemdakot Bekasi?) hingga lokasi Bantar Gebang yang dijadikan tempat deklarasi pasangan capres Megawati Prabowo (Mega-Pro) pada pilpres 2009, kesemuanya belum bisa secara pasti dijadikan icon tentang Kota Bekasi atau Landmark Kota Bekasi.
Jadi apa dong sebenarnya landmarknya Kota Bekasi?
Daeng Syahrir AS., seorang pemimpin LSM (LPPMD) mengatakan, bahwa ia prihatin dengan kondisi ini (Mei, 2009) dimana Bekasi sepertinya bukan saja kehilangan budaya daerah tapi identitas lokal saja tidak punya.
Sudah sepatutnya pemdakot Bekasi, pemdaprov Jawa Barat dan pemerintah pusat mau peduli untuk memperhatikan masalah ini, sebagai salah satu kota penyangga ibukota negara DKI Jakarta.
Memang pembangunan infrastruktur di Bekasi, baik itu Kabupaten maupun Kota semakin hari semakin bertamabah, baik itu berjalan cepat maupun cepat. Namun perencanaan tata kota masih dirasa belum memperhatikan faktor lingkungan hidup, seperti masalah drainase, tanah resapan air, lalu lintas air yang ada di Kalimalang.
Kalau toh memang ada dalam skala pembangunan jangka panjang, tampaknya masih banyak terjadi kebocoran dan dugaan penyimpangan alokasi dari rencana pembangunan kota yang telah direncanakan dalam agenda program Dinas Tata Kota Bekasi.
Seperti misalnya pembangunan Masjid Agung Al-Barokah di tengah kota Bekasi lama yang menjorok ke lapangan alun-alun kota Bekasi. Memang membuat jadi keunikan tersendiri saat dilihat dari atas langit maupun dilihat saat kita melewatinya dengan suasana sensasi tersendiri saat berputar-putar dan meliak -liuk.
Daeng Syahrir yang berniat menawarkan program pendirian Wisata Air (Water Front) sebagai landmark Kota Bekasi sedang menekankan proyek ini kepada pemdakot termasuk juga kepada pemda kabupaten Bekasi.
Namun yang menjadi masalah Daeng mengungkapkan bahwa Proyek Wisata Air di Bekasi ini masih menunggu Investor Asing untuk mewujudkannya.
Bagi Daeng yang mengatakan respon positif dari pemerintah kota sudah dia pegang dan wacananya di tingkat pemerintahan pusat sedang dibangun, tinggal bagaimana nanti mengundang investor asing untuk masuk.
(tulisan berlanjut ke tulisan berikutnya)
Sumber inspirasi tulisan: Berita Wisata
BERITA WISATA :
PEMERINTAH Kota Bekasi berencana membangun wisata air di lokasi tiga situ yang ada diwilayah Kota Bekasi. Tujuannya untuk meningkatkan kunjungan wisata sekaligus sebagai tempat rekreasi bagi wisatawan lokal.
Ketiga situ itu, Situ Rawagede seluas empat hektar yang ada di wilayah Kecamatan Bojongmenteng, Situ Rawapulo seluas enam hektare di Jatisampurna dan Situ Rawalumbu seluas lima hektar di Rawalumbu.
Sesuai rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Bekasi, ketiga situ tersebut berada di daerah resapan air. Sehingga pembangunan wisata air tidak perlu mengubah RTRW. Sayangnya, dana Pemkot sangat terbatas sehingga pembangunan wisata air sempat terbengkelai. Kini Pemkot lagi mencari investor yang mau membangun.
Memang pernah ada investor yang berniat membangun wisata air di Situ Rawagede. Bahkan telah dilakukan studi kelayakan. Hasil studi kelayakan itu, Situ Rawagede dengan kedalaman sekitar lima meter dan airnya jernih tanpa ditumbuhi eceng gondok layak untuk dikembangkan menjadi tempat wisata air.
Sementara kedua situ lainnya, meski belum dilakukan studi kelayakan, namun kondisinya hampir sama dengan Situ Rawagede dan diprediksi juga layak menjadi daerah wisata air.
Sampai saat ini memang sudah ada beberapa wisatawan lokal yang mengisi liburan dengan duduk santai sambil menikmati pemandangan. Bahkan dipakai jalan-jalan dan sarana olahraga bagi warga sekitar. ''Tapi kalau dikelola dengan baik, maka pengunjungnya juga pasti meningkat. Saya nggak tahu kapan akan dibangun,'' ucap Gardi, warga Bekasi. (endy@eljohn.co.id)
Bekasi, dobeldobel.comPrapatan Pintu Tol Bekasi Barat dari Jembatan Penyeberang Orang depan Metropolitan Mall.
Mengingat Kisah Patung Lele simbol Kota Bekasi yang dibakar, kemudian setelah berubah jadi Jam Bambu Patriot yang dihiasi iklan Extra Joss (Nggak apa maksudnya si pemdakot Bekasi?) hingga lokasi Bantar Gebang yang dijadikan tempat deklarasi pasangan capres Megawati Prabowo (Mega-Pro) pada pilpres 2009, kesemuanya belum bisa secara pasti dijadikan icon tentang Kota Bekasi atau Landmark Kota Bekasi.
Jadi apa dong sebenarnya landmarknya Kota Bekasi?
Daeng Syahrir AS., seorang pemimpin LSM (LPPMD) mengatakan, bahwa ia prihatin dengan kondisi ini (Mei, 2009) dimana Bekasi sepertinya bukan saja kehilangan budaya daerah tapi identitas lokal saja tidak punya.
Sudah sepatutnya pemdakot Bekasi, pemdaprov Jawa Barat dan pemerintah pusat mau peduli untuk memperhatikan masalah ini, sebagai salah satu kota penyangga ibukota negara DKI Jakarta.Memang pembangunan infrastruktur di Bekasi, baik itu Kabupaten maupun Kota semakin hari semakin bertamabah, baik itu berjalan cepat maupun cepat. Namun perencanaan tata kota masih dirasa belum memperhatikan faktor lingkungan hidup, seperti masalah drainase, tanah resapan air, lalu lintas air yang ada di Kalimalang.
Kalau toh memang ada dalam skala pembangunan jangka panjang, tampaknya masih banyak terjadi kebocoran dan dugaan penyimpangan alokasi dari rencana pembangunan kota yang telah direncanakan dalam agenda program Dinas Tata Kota Bekasi.
Seperti misalnya pembangunan Masjid Agung Al-Barokah di tengah kota Bekasi lama yang menjorok ke lapangan alun-alun kota Bekasi. Memang membuat jadi keunikan tersendiri saat dilihat dari atas langit maupun dilihat saat kita melewatinya dengan suasana sensasi tersendiri saat berputar-putar dan meliak -liuk.Daeng Syahrir yang berniat menawarkan program pendirian Wisata Air (Water Front) sebagai landmark Kota Bekasi sedang menekankan proyek ini kepada pemdakot termasuk juga kepada pemda kabupaten Bekasi.
Namun yang menjadi masalah Daeng mengungkapkan bahwa Proyek Wisata Air di Bekasi ini masih menunggu Investor Asing untuk mewujudkannya.
Bagi Daeng yang mengatakan respon positif dari pemerintah kota sudah dia pegang dan wacananya di tingkat pemerintahan pusat sedang dibangun, tinggal bagaimana nanti mengundang investor asing untuk masuk.
(tulisan berlanjut ke tulisan berikutnya)
Sumber inspirasi tulisan: Berita WisataBERITA WISATA :
PEMERINTAH Kota Bekasi berencana membangun wisata air di lokasi tiga situ yang ada diwilayah Kota Bekasi. Tujuannya untuk meningkatkan kunjungan wisata sekaligus sebagai tempat rekreasi bagi wisatawan lokal.
Ketiga situ itu, Situ Rawagede seluas empat hektar yang ada di wilayah Kecamatan Bojongmenteng, Situ Rawapulo seluas enam hektare di Jatisampurna dan Situ Rawalumbu seluas lima hektar di Rawalumbu.
Sesuai rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Bekasi, ketiga situ tersebut berada di daerah resapan air. Sehingga pembangunan wisata air tidak perlu mengubah RTRW. Sayangnya, dana Pemkot sangat terbatas sehingga pembangunan wisata air sempat terbengkelai. Kini Pemkot lagi mencari investor yang mau membangun.
Memang pernah ada investor yang berniat membangun wisata air di Situ Rawagede. Bahkan telah dilakukan studi kelayakan. Hasil studi kelayakan itu, Situ Rawagede dengan kedalaman sekitar lima meter dan airnya jernih tanpa ditumbuhi eceng gondok layak untuk dikembangkan menjadi tempat wisata air.
Sementara kedua situ lainnya, meski belum dilakukan studi kelayakan, namun kondisinya hampir sama dengan Situ Rawagede dan diprediksi juga layak menjadi daerah wisata air.
Sampai saat ini memang sudah ada beberapa wisatawan lokal yang mengisi liburan dengan duduk santai sambil menikmati pemandangan. Bahkan dipakai jalan-jalan dan sarana olahraga bagi warga sekitar. ''Tapi kalau dikelola dengan baik, maka pengunjungnya juga pasti meningkat. Saya nggak tahu kapan akan dibangun,'' ucap Gardi, warga Bekasi. (endy@eljohn.co.id)
Re: [sma1bks] Asal usul Sayur Lodeh--Kamus Bahasa Betawi/Bekasi---
BalasHapuskurniawan iswanto
Sat, 08 Nov 2008 17:53:19 -0800
*patung ikan gabus maksudnye
2008/11/9 kurniawan iswanto <[EMAIL PROTECTED]>
> ganti aje pake ikan gabung bang, secara gitu sayur pucung gabus pan makanan
> khas orang kite
>
> 2008/11/9 komar udin <[EMAIL PROTECTED]>
>
> Bang Kamil,
>> itu ide yang bagus.
>> Emang udah aye pikirin dari zaman zebot. Pan kudu bangga ame kite punya
>> bahase. Perkarenya atu, pasti gak konsisten. Blentang blentong.
>>
>> Orang Bekasi ngebacot soal beklai emang lihai bener. Kosakatanya bejibun.
>> Mungkin kebanyakan beklai kaleee...
>>
>> dodog
>> kemplang
>> serampang
>> plantongin
>> teblag
>> jitak
>> poles
>> gampar
>> tempeleng
>> gedid
>> sentil
>> oncog
>> ...dan laen-laen.
>>
>> Dan, aye seh kepikiran kalo soal kayak gini mah urusan pemda. Emang seh
>> secara normatif tanggungjawab bareng-bareng, cuman kan sumber daye kite
>> kebates. Nyari makan aje udah puyeng apalagi bikin kamus Bekasi. Pun gitu,
>> aye denger-denger udah ada yang bikin bang. Ntar kite tanya dah ama bang Ali
>> Anwar.
>>
>> Perhatian terhadap bahasa daerah, ini kan gak lepas dari strategi
>> pembangunan budaya. Kite liet aza tuh kalo budaya sunda udah marak dan,
>> bahkan aye rasa lebih dapet perhatian dari pemda. Mungkin karena di pemda
>> kebanyakan orang sunda. Bini aye juga orang sunda seh...
>>
>> Strategi pembangunan budaya ini meluas. Gak cuma bahasa. Tapi juga
>> produk-produk kreatif laennya. Kayak tari-tarian, pencak silat khas Bekasi,
>> musik, seni rupa dan laen sebagainya.
>>
>> Kalo info dari Bang Ali Anwar, alumni 84 yang jadi sejarahwan, topeng
>> blantek itu dari negeri leluhurnya Bang Kamil, Tambun. Tapi, karena
>> dikembangin Pemda DKI akhirnya jadi brand kebudayaan Betawi. TOpeng Nomir
>> juga dari Bekasi. Dan semua jenis topeng itu asalnye dari Bekasi. Bukan
>> Betawi lho. Dari beberapa definisi, Betawi berbeda dengan Bekasi.
>> Secara budaya barangkali Bekasi itu sub-kultur Betawi (cmiiw).
>>
>> Perkare ini aye sengit ngritik Pemda. Coba dah tanya orang yang baru
>> dateng ke Bekasi, kagak ada ikon atau simbol khusus yang mengidenifikasi
>> Bekasi. Duh, endah beneeer kal misalnya keluar tol Barat kite nemuin monumen
>> gerobak sapi. Atau apalah gitu yang menjadi identitas budaya (culture
>> identity) Bekasi.
>>
>> Dalam konteks ini, aye inget pembakaran patung lele oleh Damin Sada. Ini
>> gak lepas dari pertarungan budaya. Orang Bekasi kagak ikhlas lele dijadiin
>> ikon buat kota Bekasi. Mirip patung Buaya dan Paus punya Surabaya.
>>
>> he.he..he.....giu deh. Jadi kepanjangan neh ya.
>> Bahasa daerah-infrastruktur budaya-strategi pembangunan budaya-perhatian
>> pemerintah dll jadi pe-er bareng-bareng dah....
ketemuan yuuuuk....
Kurniawan
Ayo ke kota Bekasi
BalasHapusBekasi terkenal dengan kota semrawut terutama angkot dan biskotanya. apalagi sentral daerah setiakawan yang merupakan terminal kedua kota bekasi dan tidak berhalte. sungguh naas masyarakat BEkasi, mereka tinggal di kota yang tidak nyaman. angkot-angkot dan biskota bisa berhenti di mana saja semau mereka. daerah setiakawan Jl. Cut Mutia sepertinya sudah menjadi sentral masyarakat,di mana setiap biskota melalui jalan ini. tapi mengapa tidak ada halte untuk tempat menunggu para penumpang dan tidak ada pembatas jalan, sehingga angkot liar bisa memutar kapan saja. TOLONG BAPAK YANG TERORMAT, BAAIMANA CARANYA AGAR DAERA SETIAKAWAN MENJADI LEBIH TERTIB. SEPERTINYA PERSIMPANGAN RAWAPANJANG BISA DIJADIKAN CONTAH. TERIMA KASIH
BalasHapusSEMOGA BEKASI MENJADI KOTA YANG NYAMAN DAN TERTIB!
Maro bergabung di bloggerbekasi.com untuk mewartakan dan membangun bekasi bersama-sama.
BalasHapusSalam
Aku beri rating keren untuk tulsian ini.
BalasHapusCukup lengkap dan inspiratif.
Akanlebih mantap lagi kalau bersinergi dengan blogger bekasi di http://bloggerbekasi.com/
Salam Kompak Selalu
Posting Komentar